#Label1 .widget-content{ height:200px; width:auto; overflow:auto; }

laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Google+ Badge

Cuaca

Follow by Email

Google+ Followers

Rabu, 24 Oktober 2012

ZIKIR & DOA SAPU JAGAT DI MASY’ARIL HARAM:

Serial Tafsir Ayat-ayat Haji dan Umrah (16)
Menyambut Hari Raya Qurban 1433 H/ 2012 M.
 

اذْكُرُوا اللَّهَ
(Berdzikirlah Menyebut Allah)

Mukaddimah:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد!
Zikir dan Doa Melihat Tuhan:
Kamis (18/10/12), di tengah malam yang sunyi pada (H-8) dari 10 pertama zul-Hijjah 1433 H; penulis duduk ber-khalwat di depan komputer mendalami ayat ke-200 dari surah al-Baqarah - ayat kajian ini... Tanpa menghiraukan alam sekitar termasuk serbuan nyamuk-nyamuk yang mengganas di teras rumah Tembaga I - Jakpus, kecuali hanya sibuk berdebat dengan jiwa sendiri. Lalu datang kepada penulis sebuah bisikan, yang malah hanya membawa khayalan semakin larut dan penasaran. Salah satu pertanyaan yang menggelitik di benak: “Apakah seandainya jika telah terbuka tabir penglihatanku, maka apakah aku melihat Allah SWT?

Kemudian aku menjawab: Tentu saja bisa, namun tubuh manusiawiku masih sangat lemah sekarang, dan tidak mempunyai daya untuk melihat Allah, maka aku pun bertanya lagi pada diri ini; apakah jika kita sudah melampaui semua batas kemustahilan, apakah kita melihat Allah? Kembali aku jawab sendiri; tentu saja bisa melihat Allah! Dan selanjutnya,,,?! Tiba-tiba terbetik di dalam benak penulis sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman:
Artinya: “Aku berada pada pemikiran hamba-Ku terhadap-Ku; Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku; jika dia mengingat-Ku dalam jiwanya, Aku pun mengingatnya dalan diri-Ku; jika dia mengingat dan menyebut-Ku dihadapan orang banyak, Aku pun menyebutnya dihapadan komunitas yang lebih berkualitas; jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sedepah; jika dia datang kepada-Ku berjalan, Aku mendatanginya berlari” (Hadits Qudsi).
Masih saja pikiranku terbawa oleh kalimat-kalimat hadits di atas - padahal penulis tidak pernah memperhatikan sebelumnya bahkan perawinya pun tidak tau - lalu aku bergumam lagi pada jiwaku, aku sekarang berzikir menyebut Allah dalam diriku, apakah Allah mengingatku dalam diri-Nya yang Maha suci?! Maka spontan dan yakin aku menegaskan tentu saja Allah SWT mengingatku sekarang, bukankah Dia telah berfirman: “Maka ingat-lah kepada-Ku niscaya Aku mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku serta janganlah kufuri (ni’mat-Ku)”. (Ayat al-Quran).
Mengingat Allah Selesai Prosesi Manasik Haji dan Umrah:
Allah berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
Artinya: “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu,,,” (QS: 02: 200)
Ayat ini menyimpulkan dari keterangan-keterangan ayat sebelumnya, yaitu: "Apabila kamu telah bertolak dari Arafah.... Kemudian kamu bertolak dari tempat orang-orang bertolak (Muzdalifah)", lalu menuju ke Mina melontar jamrah Aqabah pada pagi hari waktu Dhuha, tanggal 10 zul-Hijjah, selanjuntnya menuju ke tempat penyembelihan kurban, seterusnya berangkat ke Baitullah melakukan tawaf, sa'i dan tahallul, maka selesai sudah rangkaian prosesi manasik haji. Maka telah dihalalkan semua apa yang telah menjadi larangan ihram, kecuali berhubungan suami isteri. Kemudian kembali lagi ke Mina untuk mabit selama hari-hari tasyriq (11-12-13 zul Hijjah), dan melontar tiga jumrah selama hari-hari itu, khusus melontar jamrah pada hari-hari tasyriq ini akan lebih dirincikan nanti pada ayat berikut. 

Dengan demikian, maka telah selesai semua segala prosesi manasik haji dan dihalalkan semua larangan ihram termasuk berhubungan suami isteri yang shah. Oleh karena itu ayat ini menjelaskan apabila kamu telah menyelesaikan semua manasik itu, maka hendaklah kamu memperbanyak zikir menyebut Allah. Dan memang itulah tujuan utama melaksanakan ibadah haji, untuk lebih men-shaleh-kan diri setelah sekitar 70 hari lamanya kita digembeleng dalam penataran pendidikan haji di tanah suci. 

Jadi haji bukanlah pajangan dan penggenjot status sosial yang membuat seorang pemegang lisensi haji semakin sombang, tetapi seorang haji dituntut lebih arif, shaleh, tawadhu, dan peka sosial setelah pulang dari menunaikan ibadah haji tersebut, sebagai tolak ukur dari ke-mabrur-an haji kita, karena haji mabrur tiada lain balasannya kecuali surga. Maka ayat ini memerintahkan setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, hendaklah melipat gandakan zikir menyebut Allah lebih dari sebelum menunaikan haji, sebagaimana firman Allah: 
فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
Artinya: “maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu,,,
Ayat ini diturunkan untuk mencela tradisi buruk bangsa Arab jahiliyah, di mana di dalam riwayat disebutkan, bahwa mereka apabila telah bertolak dari Arafah menyelesaikan hajinya, mereka bersombong ria membangga-banggakan kebesaran nenek moyang mereka, oleh karena itu Islam mengutuk keras perbuatan seperti itu, sebaliknya justru dituntut untuk lebih rendah hati dan selalu memperbanyang zikir menyebut Allah lebih dari sekedar menyebut-menyebut kepahlaanan nenek moyang yang sudah tiada. (Lihat: Riwayat Ibn Abbas). 

Do’a Popular dan Mustajab:
Allah berfirman:
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ(٢٠٠) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (٢٠٢)
Artinya: “maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat; Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”; Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya” (QS: 02: 200 – 202);
Masih dalam kaitan ayat sebelumnya, yaitu Allah SWT memerintahkan kepada seluruh umat Islam, terutama kepada mereka yang sedang melaksanakan manasik haji di tanah suci agar memperbanyak zikir menyebut Allah SWT; mulai dari ihram, ketika berada di Arafah, bertolak ke Muzdalifah, Mina dan di seluruh tempat-tempat di masy’aril haram lainnya hendaklah tidak berhenti dari berzikir menyebut Allah sebanyak-banyaknya. 

Bahkan sampai selesai melaksakan manasik haji dan sudah pulang ke tanah air pun masih diperintahkan untuk memperbanyak zikir, karena zikir merupakan kalimat yang amat indah, dan olah pikir yang paling menentramkan jiwa, Allah berfirman: “Hanya dengan berzikir mengingat Allah yang dapat menenangkan hati”. 

Ayat kajian ini menjelaskan bahwa do’a merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari zikir, bahkan termasuk salah satu zikir yang utama adalah berdoa memohon kepada Allah SWT. Oleh karena itu ayat di atas mengajarkan doa yang paling utama dipanjatkan oleh seorang muslim adalah memohon keberkatan di dunia dan akhirat secara seimbang, tidak meluluh minta kesejahteraan di dunia lalu kelak akan menderita di akhirat, sebagaimana firman Allah: “maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat”. 

Tetapi justru doa yang paling idial dan mustajab adalah berdoa untuk kebaikan di dunia, sejahtera di akhirat dan terbebas dari api neraka: “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”; Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. 
Untuk menjelaskan lebih konkrit ayat ke 200-202 dari surah al-Baqarah, ayat kajian ini, mari kita simak firman Allah SWT yang lain:
Allah SWT berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniwi,,,” (QS: 28: 77).
  • Pertama: Kehidupan Akhirat Adalah Tujuan: 
    Allah SWT berfirman: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat". 

    Di sini nampak jelas bahwa yang harus kita kejar adalah kebahagiaan hidup akhirat. Mengapa? Karena di sanalah kehidupan abadi. Tidak ada mati lagi setelah itu. Karenanya dalam ayat yang lain Allah berfirman: "Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya" (QS. 29: 64). 

    Lalu, apa arti kita hidup di dunia?... Dunia tempat kita mempersiapkan diri untuk akhirat. Sebagai tempat persiapan, dunia pasti akan kita tinggalkan. Ibarat station, kita transit di dalamnya sejenak, sampai waktu yang ditentukan, setelah itu kita tinggalkan dan melanjutkan perjalanan selajutnya. Bila demikian tabiat dunia, mengapa kita terlalu banyak menyita hidup untuk keperluan dunia? Diakui atau tidak, dari 24 jam jatah usia kita dalam sehari, bisa dikatakan hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk persiapan akhirat. Selebihnya bisa dipastikan terkuras habis oleh kegiatan yang berputar-putar dalam urusan dunia. 

    Coba kita ingat nikmat Allah yang tak terhingga, setiap saat mengalir dalam tubuh kita. Tapi mengapa kita lalaikan itu semua. Detakan jantung tidak pernah berhenti. Kedipan mata yang tak terhitung berapa kali dalam sehari, selalu kita nikmati. Tapi kita sengaja atau tidak selalu melupakan hal itu. Kita sering mudah berterima kasih kepada seorang yang berjasa kepada kita, sementara kepada Allah yang senantiasa memanja kita dengan nikmat-nikmatNya, kita sering kali memalingkan ingatan. Akibatnya kita pasti akan lupa akhirat. Dari sini dunia akan selalu menghabiskan waktu kita. 

    Orang-orang bijak mengatakan bahwa dunia ini hanyalah keperluan emergensi saja, ibarat WC dan kamar mandi dalam sebuah rumah, ia disiapkan semata sebagai keperluan darurat. Karenanya siapapun dari penghuni rumah itu akan mendatangi WC atau kamar mandi jika perlu, setelah itu ditinggalkan. Maka sungguh sangat aneh bila ada seorang yang diam di WC sepanjang hari, dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari dibangunnya rumah itu. Begitu juga sebenarnya sangat tidak wajar bila manusia sibuk mengurus dunia sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Sementara akhirat dikesampingkan. 

    Kemudian bagaimana mensinkronkan atau menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat? Mari kita ikuti kategori ke dua sebagai sambungan penjelasan ayat di atas.
    • Kedua: Berusaha Memperbaiki Kehidupan Dunia:
    Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi “;  

    Yaitu, bahwasannya Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu berusaha menggapai kebahagiaan akhirat, tetapi jangan melupakan kehidupan di dunia ini. Meskipun kebahagiaan dan kenikmatan dunia bersifat sementara tetapi tetaplah penting dan agar tidak dilupakan, sebab dunia adalah ladangnya akhirat. 

    Masa depan — termasuk kebahagiaan di akhirat — kita, sangat bergantung pada apa yang diusahakan sekarang di dunia ini. Allah telah menciptakan dunia dan seisinya adalah untuk manusia, sebagai sarana menuju akhirat. Allah juga telah menjadikan dunia sebagai tempat ujian bagi manusia, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya, siapa yang paling baik hati dan niatnya. 

    Allah mengingatkan perlunya manusia untuk mengelola dan memenege dunia ini dengan sebaik-baiknya, untuk kepentingan kehidupan manusia dan keturunannya. Pada saat yang sama Allah juga menegaskan perlunya selalu berbuat baik kepada orang lain dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Allah mengingatkan: ”Tidakkah kalian perhatikan bahwa Allah telah menurunkan untuk kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin” (QS. 31: 20). 

    Untuk mengelola dan menggarap dunia dengan sebaik-baiknya, maka manusia memerlukan berbagai persiapan, sarana maupun prasarana yang memadai. Karena itu maka manusia perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, setidaknya keterampilan yang mencukupi dan profesionalisme yang akan memudahkan dalam proses pengelolaan tersebut. 

    Meskipun demikian, karena adanya sunatullah, hukum sebab dan akibat, tidak semua manusia pada posisi dan kecenderungan yang sama. Karena itu manusia apa pun; pangkat, kedudukan dan status sosial ekonominya tidak boleh menganggap remeh profesi apa pun, yang telah diusahakan manusia. Allah sendiri sungguh tidak memandang penampakan duniawiah atau lahiriah manusia. Sebaliknya Allah menghargai usaha apa pun, sekecil apa pun atau sehina apa pun menurut pandangan manusia, sepanjang dilakukan secara profesional, baik, tidak merusak dan dilakukan semata-mata karena Allah. 

    Allah hanya memandang kemauan, kesungguhan dan tekad seorang hamba dalam mengusahakan urusan dunianya secara benar. Allah SWT menegaskan bahwa: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kedudukan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah kondisi, kedudukan yang ada pada diri mereka sendiri (melalui kerja keras dan kesungguhannya” (QS. 13: 11). 

    Allah juga mengingatkan manusia karena watak yang seringkali serakah, egois/sifat ananiyah dan keakuhannya, agar dalam mengelola dunia jangan sampai merugikan orang lain yang hanya akan menimbulkan permusuhan dan pertumpahan darah (perang) antar sesamanya. Manusia seringkali karena keserakahannya berambisi untuk memiliki kekayaan dan harta benda, kekuasaan, pangkat dan kehormatan dengan tidak memperhatikan atau mengabaikan hak-hak Allah, rasul-Nya dan hak-hak manusia lain. Karena itu Allah mengingatkan bahwa selamanya manusia akan terhina dan merugi, jika tidak memperbaiki hubungannya dengan Allah 'hablun minallah' dan dengan sesamanya-manusia 'hablun minannaas'. 

    Inilah landasan yang penting bagi terciptanya harmonisme kehidupan masyarakat. Ia juga merupakan landasan penting dan prasyarat masyarakat yang bermartabat dan berperadaban menuju terciptanya masyarakat madani yang damai, adil, dan makmur.
    Nafar Awal dan Nafar Tsani:
    Allah berfirman:
    وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (٢٠٣)
    Artinya: “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang, barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya, dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS: 02: 203)
    Yaitu, Allah SWT menegaskan kembali untuk tetap berzikir dan berdoa, kali ini di khususkan pada hari-hari tasyriq di Mina (11-12-13 zul-Hijjah), ketika melontar tiga jumrah selama hari-hari tasyriq itu hendaklah memperbanyak zikir menyebut Allah, dianjurkan setiap melontarkan satu biji batu pada ketiga jumrah tersebut maka bacalah “Allahu Akbar”, yaitu tujuh kali pada setiap jumrah maka semuanya 21 kali melontar dan menyebut takbir

    Jadi total semuanya adalah (21 lontaran x 3 hari) + (7 kali di jumrah aqabah sebelumnya), maka jumlah zikir (Allahu Akbar) paling minimal yang kita sebutkan selama di Mina adalah 70 kali (bagi nafar tsani), atau 49 kali (bagi nafar awal). Adapun penjelasan nafar awal dan nafar tsani, sebagai berikut:
    Allah berfirman:
    فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (٢٠٣)
    Artinya: “barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya, dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.
    Yaitu, jamaah haji dibolehkan memilih antara nafar awal dan nafar tsani, bagi yang memilih nafar awal maka mereka melontar di Mina hanya dua hari saja (11 dan 12 zul-Hijjah), tetapi dengan syarat mereka sudah harus meninggalkan zona Mina sebelum Maghreb, kalau waktu Maghreb masih berada di Mina juga maka mereka harus mengambil nafar tsani, yaitu melontar ketiga jumrah lagi besok harinya.

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar